Rabu, 25 April 2018

Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! [Kidung Agung 2:10]


Dengarlah! Kekasihku! Lihatlah, Dia berbicara kepadaku! Cuaca cerah menunjukkan senyumnya di atas muka bumi, dan Dia tidak akan membiarkan rohaniku tertidur sementara alam di sekitarku terbangun dari istirahat musim dinginnya. Dia meminta kepadaku, “Bangunlah,” dan Ia mempunyai alasan yang baik untuk melakukannya sebab aku sudah lama terbaring di antara periuk-periuk dunia. Dia bangkit, dan aku bangkit di dalam Dia, mengapa aku harus melekat kepada debu [Mazmur 119:25]? Dimulai dari cinta, keinginan, tujuan, dan cita-cita pada tingkat yang rendah, aku hendak bangkit menuju kepada-Nya. Dia memanggilku dengan panggilan manis ini: “Manisku,” dan menyebutku jelita; ini alasan yang meyakinkan bahwa aku harus bangkit. Jika Ia telah sedemikian meninggikan aku, dan menganggap aku begitu indahnya, bagaimana aku dapat berlama-lama tinggal di tenda-tenda Kedar [1] dan mencari rekan yang menyenangkan diri di antara umat manusia? Dia memintaku: “Marilah.” Semakin menjauh dari segala sesuatu yang egois, rendah diri, duniawi, dan berdosa, Dia memanggilku; ya, dari dunia agamawi lahiriah yang tidak mengenal-Nya, dan yang tidak peduli akan misteri hidup yang lebih tinggi, Dia memanggilku. “Marilah,” tidak mengandung perkataan yang kasar, karena apakah yang dapat menahanku di gurun kesia-siaan dan dosa ini? Oh Tuhanku, aku ingin datang ke sana, tetapi aku tertahan di antara semak duri, dan tidak dapat melarikan diri dari mereka sesuai harapanku. Bila mungkin, aku ingin tidak memiliki mata, telinga, dan hati untuk berdosa. Engkau telah memanggilku datang kepada-Mu dengan berkata “Marilah,” dan ini adalah panggilan yang sungguh merdu. Datang kepada Tuhan berarti pulang dari pengasingan, berarti sampai tanah yang aman dari amukan badai, berarti beristirahat setelah kerja yang panjang, berarti tiba di tujuan hasratku dan puncak keinginanku. Namun Tuhan, bagaimana sebutir batu bisa bangkit, bagaimana segumpal tanah liat dapat keluar dari sebuah lubang yang mengerikan? Oh bangkitkanlah aku, tarik aku. Anugerah-Mu dapat melakukannya. Kirimkan Roh Kudus untuk menyalakan api suci cinta kasih di dalam hatiku, dan aku dapat terus bangkit sampai aku meninggalkan kehidupan dan waktu di belakangku, dan sungguh-sungguh datang kepada-Mu.

____________________
[1] Bani Kedar berasal dari anak Ismael [Kejadian 25:13] dan merupakan orang-orang yang membenci perdamaian [Mazmur 120:5-7]

RENUNGAN PAGI (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

BAGIKAN MELALUI

Unfortunately, we currently do not have English devotions available.