Jumat, 13 Oktober 2017

Dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan. [2 Korintus 7:10]


Meratapi dosa secara tulus dan rohani adalah pekerjaan dari Roh Allah. Pertobatan adalah bunga yang terlalu istimewa untuk tumbuh di pekarangan dunia. Mutiara secara alami bertumbuh dalam tiram, tetapi rasa penyesalan tidak pernah kelihatan dalam diri para pendosa kalau bukan karena anugerah surgawi yang bekerja di dalamnya. Apabila engkau memiliki setitik saja kebencian akan dosa, pasti Allah yang telah memberikannya kepadamu, karena duri-duri alamiah manusia tidak pernah menghasilkan buah. “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging” [Yohanes 3:6]

Pertobatan sejati merujuk secara nyata kepada Sang Juruselamat. Ketika kita bertobat dari dosa, kita harus mengarahkan satu mata pada dosa dan satunya lagi pada salib, atau bahkan lebih baik jika kita memusatkan kedua mata kita pada Kristus dan melihat pelanggaran-pelanggaran kita saja, di dalam sinar kasih-Nya.

Dukacita sejati akan dosa adalah sesungguhnya praktis. Tidak ada orang boleh berkata dia membenci dosa, jika dia hidup di dalamnya. Pertobatan membuat kita melihat kejahatan dosa, bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai pengalaman—seperti seorang anak yang pernah terbakar takut akan api. Kita seharusnya takut akan dosa, seperti seseorang yang baru dihadang dan dirampok takut akan perampok di jalan raya; dan kita harus menghindari dosa—menghindarinya dalam segala sesuatu—tidak hanya pada hal-hal besar, tapi juga hal-hal kecil, seperti orang menghindari ular berbisa yang kecil maupun yang besar. Ratapan sesungguhnya akan dosa akan membuat kita sangat dengki pada lidah kita, supaya jangan sampai ia menuturkan kata yang salah; kita akan sangat berhati-hati dengan tindakan sehari-hari kita, jangan sampai ada yang menyinggung, dan setiap malam, kita akan menutup hari dengan pengakuan yang menyakitkan akan kekurangan kita, dan setiap bangun pagi, berdoa dengan tekun, agar hari ini Allah memegang kita supaya kita tidak berdosa terhadap Dia.

Pertobatan tulus itu terus-menerus adanya. Orang-orang percaya bertobat hingga hari kematian mereka. Hal ini tidak berselang-seling. Setiap dukacita lainnya akan hilang seiring dengan waktu, tetapi dukacita yang berharga ini tumbuh seiring pertumbuhan kita, dan ini merupakan rasa pahit yang manis, yang atasnya kita bersyukur kepada Allah karena kita boleh menikmati dan menahan deritanya hingga kita memasuki peristirahatan abadi kita.

____________________

RENUNGAN PAGI (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

BAGIKAN MELALUI

Unfortunately, we currently do not have English devotions available.