Minggu, 11 April 2021

Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya. [Mazmur 22:14]


Pernahkah bumi atau langit menyaksikan peristiwa duka yang lebih menyedihkan daripada ini! Dalam jiwa dan tubuh, Tuhan kita merasa diri-Nya lemah seperti air yang dicurahkan ke atas tanah. Penegakan salib telah mengguncang-Nya dengan kejam, telah menegangkan semua ligamen, menyakitkan setiap saraf, dan kurang lebih melepaskan semua tulang-Nya dari sendi [Mazmur 22:14]. Dibebani dengan berat badan-Nya sendiri, Penderita agung itu merasakan kejang yang meningkat setiap waktunya sepanjang enam jam. Rasa ingin pingsan dan sakit terlalu besar; sementara dalam kesadaran-Nya sendiri Dia menjadi tidak lain sebuah tumpukan kesengsaraan dan rasa ingin pingsan. Ketika Daniel melihat penglihatan yang besar itu, demikian ia menjelaskan perasaannya, "hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku." [Daniel 10:8] Betapa lebih pucat lagi Nabi kita yang lebih besar itu ketika Dia melihat penglihatan yang mengerikan akan murka Allah, dan merasakannya dalam jiwa-Nya sendiri! Bagi kita, perasaan seperti yang Tuhan kita alami pasti tidak akan tertahankan, dan kemudian ketidaksadaran datang menolong kita dari perasaan tersebut; tetapi dalam kasus-Nya, Dia terluka, dan merasakan tusukan pedang; Dia minum habis cawan itu dan mengecap setiap tetesnya.

    "Oh Raja segala Duka! (sebuah gelar yang ganjil, namun benar adanya
    hanya layak bagi Engkau di antara segala raja)
    Oh Raja segala Luka! bagaimana aku berduka untuk-Mu,
    Yang mendahului aku dalam segala duka!" [1]

Sementara kita berlutut di hadapan takhta Juruselamat yang sekarang telah naik ke surga, marilah kita mengingat baik-baik bagaimana cara Dia mempersiapkan takhta itu sebagai takhta kasih karunia bagi kita; marilah kita di dalam roh minum dari cawan-Nya, supaya kita diberi kekuatan dalam saat-saat yang begitu berat kapanpun terjadinya. Dalam tubuh jasmani-Nya setiap anggota menderita, maka pastilah terjadi juga dalam rohani-Nya; tetapi seperti halnya dari seluruh kesedihan dan kesengsaraan-Nya, tubuh-Nya keluar tanpa luka menuju kemuliaan dan kuasa, begitu juga tubuh mistik-Nya akan keluar melewati perapian tanpa sedikit pun bau terbakar.

____________________
[1] Bagian dari puisi The Thanksgiving oleh George Herbert, seorang pendeta Anglikan

RENUNGAN PAGI (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

BAGIKAN MELALUI

Unfortunately, we currently do not have English devotions available.