Senin, 15 April 2019

Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? [Mazmur 22:1]


Kita di sini melihat dalamnya kesedihan Sang Juruselamat. Tidak ada tempat lain yang dengan sangat baik menunjukkan dukacita Kristus seperti di Kalvari, dan tidak ada momen lain di Kalvari yang begitu penuh dengan penderitaan seperti di saat seruan-Nya memecah udara—"Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" [Matius 27:46] Dalam momen ini, kelemahan fisik bersatu dengan siksaan mental yang akut dari penghinaan dan aib yang harus Ia lewati; dan yang membuat dukacita-Nya sungguh pada titik puncaknya, Ia memikul penderitaan rohani yang tak terungkapkan, yaitu hasil dari perginya kehadiran Bapa-Nya. Inilah tengah malam yang gelap dari ketakutan-Nya; yaitu saat Ia turun ke jurang maut penderitaan. Tidak ada manusia yang dapat menyelami pengertian sepenuhnya dari kalimat tersebut. Beberapa dari kita terkadang berpikir kita bisa berseru, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Ada musim-musim di mana terang dari senyuman Bapa kita terselimuti oleh awan dan kegelapan; tetapi mari kita mengingat bahwa Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Hanya kelihatannya saja Ia meninggalkan kita, namun dalam kasus Kristus, Ia sungguh-sungguh ditinggalkan. Kita berduka saat kasih Bapa kita sedikit undur; tetapi ketika wajah Allah sungguh-sungguh berpaling dari Anak-Nya, siapakah yang dapat menghitung dalamnya penderitaan yang Yesus alami karenanya?

Dalam kasus kita, tangisan kita sering kali berdasarkan ketidakpercayaan: dalam kasus-Nya, seruan itu adalah ungkapan dari fakta yang mengerikan, sebab Allah sungguh-sungguh berpaling dari-Nya untuk beberapa saat. Oh engkau jiwa yang malang, yang tertekan, yang pernah tinggal dalam terang cahaya wajah Bapa, tetapi sekarang dalam kegelapan, ingatlah bahwa Ia tidak pernah sungguh-sungguh meninggalkan engkau. Allah ketika di dalam awan adalah juga Allah kita yang sama ketika Ia bersinar dalam segala kilau anugerah-Nya; tetapi jikalau pemikiran bahwa Ia meninggalkan kita saja sudah membuat kita menderita, dukacita macam apakah yang Sang Juruselamat lalui ketika Ia berseru, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"

____________________

RENUNGAN PAGI (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).
Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.

BAGIKAN MELALUI

Unfortunately, we currently do not have English devotions available.